Sabtu, 05 Juli 2014

PANTAI PASIR PUTIH KEBUMEN MENGANTI



PANTAI PASIR PUTIH KEBUMEN
MENGANTI

Sehari sebelum puasa Ramadhan 2014, untuk membuang penat, aku dan teman-temanku main ke pantai Menganti yang ada di Kebumen. Letak persisnya ada di Kecamatan Ayah Gombong. Untuk menuju kesana, dari Banjar kita lewat jalan kearah waduk Sempor dari Mandiraja. Jalannya sedang perbaikan jadi cukup rusak dan hanya dipakai separuh. Setelah sampai di pertigaan Sempor di Jalan Kebumen Gombong, kita ke arah barat sedikit sampai nemu pertigaan ke pantai Karang Bolong. Nah kita belok kiri ikuti jalan sampai pertigaan pantai karang Bolong. Di treat sebelumnya aku juga sudah membahas pantai karang Bolong karena kami mampir sebentar. Lalu kita melanjutkan perjalanan ke Pantai Menganti. Sekitar setegah jam dari karang bolong. Jalannya naik turun dan sempit namun sudah aspalan. Saat itu kita harus hati-hati karena jalan licin sehabis hujan. Mendekati pantai Menganti, kita juga harus hati-hati karena kita berjalan diatas bukit yang samping kanan kirinya jurang. Jangan sampai jatuh karena kalau sampai jatuh repot sekali itu.



                Sampailah kita di gerbang tiket Menganti. Satu motor dikenakan tarif Rp 5000 atau perorang Rp 2500,-. Sedangkan parkirnya Rp 2500,- per motor. Dari gerbang sampai pantainya, kita menuruni jalan yang rusak dan turunan curam serta kelokan tajam. Harus ekstra hati-hati karena jalannya jelek sekali banyak lubangnya dan kita tak bisa mengelak dari lubang-lubang jalan. Rem motor atau mobil harus benar-benar fit agar tidak kebablasan.
         
Sayang waktu itu benar-benar mendung jadi pemandangannya sedikit berkurang bagusnya. Foto pun gelap. Namun pantainya memang bagus. Meski sebenarnya aku sudah biasa melihat pantai bagus di Wonosari atau Pacitan.  Namun untuk ukuran Kebumen yang biasanya pasirnya hitam, pantai pasir putih ini sudah cukup bagus. Banyak batu karang yang menambah keindahannya juga.

BEROBAT RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT EMANUEL BANJARNEGARA



BEROBAT RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT EMANUEL BANJARNEGARA

          Lama gag ngepos, kali ini aku mau sedikit berbagi cerita tentang rawat jalan di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Banjarnegara. Di Banjarnegara sendiri ada 3 rumah sakit besar yaitu RSUD Banjarnegara, Rumah Sakit Islam Banjarnegara dan Rumah Sakit Emanuel. Berdasarkan pengalamanku menggunakan fasilitas ketiga rumah sakit tersebut, yang paling membuatku nyaman adalah Rumah Sakit Emanuel karena memang dokter spesialisku ada di sana. Selain itu dari fasilitas , kemudahan dan keramahan pelayanan paling baik memang RS Emanuel.
          Kebetulan aku diberi anugrah penyakit yang cukup sulit diobati dan harus rutin cek. Yah semoga bisa menjadi pengurang dosaku deh amin... Bisa dibilang tak bisa sembuh total tanpa transplantasi dan itu pun sangat sulit didapat. Jadi ya sabar aja, karena kalau sabar pasti semua berjalan baik-baik saja. Di RS sakit ini menurutku cukup lengkap spesialisasinya untuk ukuran kabupaten kecil seperti Banjarnegara. Kalau aku sendiri daripada berobat ke RS negeri lebih baik ke swasta. Karena perbedaan harga yang sangat tipis namun kita lebih dimanusiakan. Yah karena swasta selalu mengedepankan kualitas pelayanan jadi sebagai konsumen lebih nyaman aja. Lagipula aku tak pakai jamkesmas, askes dan lain-lain jadi ya gag ada bedanya sama negeri.
          Langkah pertama kalau kita mau rawat jalan alias periksan bahasa jawanya, lebih baik kita daftar via telepon, karena memudahkan kita biar gag kelamaan nunggu sekalian ngecek dokternya ada apa kagak, karena dokternya ada banyak kita bisa milih. Misal hari senin selasa dokter A, rabu dokter B dll. Pengalamanku karena aku dah ditangani sama satu dokter itu ya aku lebih prefer jadi selalu milih periksan di jadwal prakteknya. Sebenernya langsung datang aja si gag pa2, Cuma kadang ngantrinya jadi lama. Setelah kita daftar di loket pendaftaran (bagi yang daftar lewat telepon juga konfirmasi ulang di loket pendaftaran), kita langsung cus ke ruang pemeriksaan nunggu giliran sampe dapet giliran diperiksa. Kalau pakai askes atau jamkesmas ada loketnya sendiri, tapi tetap pelayanannya sama Cuma beda loket pendaftarannya ajah. Setelah diperiksa kita langsung ngantri ngambil obat dan sekalian bayar. Enaknya kita berobat disini, semua dokumen bla bla bla diurus sama karyawan sana. Kita Cuma daftar periksa ngambil obat udah gitu doang. Kalau di rumah sakit lain apalagi negeri, dokumen pendaftaran kita sendiri yang nyerahin ke dokternya buat antri periksan, trus resep obat juga kita yang nyerahin ke loket apotik. Yah kalo kita anak muda mah gag bingung, bayangin kalaiu orang tua yang berobat sendirian. Pasti bingung abis tuh soalnya sebelum melabuhkan pengobatanku ke RS swasta ini, 2 tahun aku periksannya di rs negeri dan pelayanannya bener-bener zong, pelayannya juga jutek. Bikin tambah sakit aja. Makanya setelah pindah ke RS swasta ini aku lebih sreg. Pengennya sie jelas cepat-cepat gag usah berurusan sama rumah sakit lagi alias sembuh total. Tapi entah kapan hanya Tuhan yang tahu.
          Untuk biaya sendiri menurutku biaya periksan dokternya masih lumrah lah Rp 75.000,-. Kalau obat tergantung penyakitnya ya dan obatnya. Dan pengalamanku pernah saking lagi limitnya duit, duitku kurang jadi aku gag ngambil obatnya Cuma minta dicopiin resep dan ditebus kapan-kapan toh masih ada obatnya di rumah. Dan pihak sana gag mempermasalahkan dan gag ngomel-ngomel. Kalau dulu pas di RS negeri pernah ada pasien kayak gitu langsung dijutekin sama karyawannya. Ya ampun tega banged deh. Bahkan ada salah satu rumah sakit negeri tapi di luar kota lebih gila lagi. Kita suruh bayar dulu biaya dokternya baru diperiksan, dan parahnya yang nyuruh dokternya pula. Jadi dokter mau meriksan kalo ada tanda bukti pembayarannya yang diserahin ke co-as nya, Hedeh bukannya dokter tuh tugasnya meriksan aja ya, masalah bayaran kan dibelakang pasti dibayar.
          Yap sekian pengalamanku rawat jalan. Kalau rawat inap alhamduliah aku belum pernah dan jangan pernah deh. Penilaianku buat RS Emanuel bagus meski karena bagus jadi ramai yang periksan disana akhirnya ngantri deh. Tapi mang wajar lah.
         

DRAMA MEDIS KOREA YANG KUSUKA



DRAMA MEDIS KOREA  YANG KUSUKA
         
Puasa-puasa gini gag ada kerjaan enaknya ngocret aja deh pake tulisan. Daripada nyetatus gag jelas di sosmed mending nggombal di blog sendiri ajah. Dah setahun ini aku jadi penggemar drama Korea khususnya drama medis. Entah kenapa aku selalu suka drama yang seperti ini. mungkin karena sudah bosan sama film barat yang isinya fantasi, perang  dan percintaan atau drama korea biasa yang isinya cerita cinderella, atau sinetron indonesia yang ceritanya konyol tak bermutu abis. Yah itung-itung tahu gimana sih orang kalo dioperasi itu. Meski awalnya sedikit ngeri karena adegan pembelahan kulitnya nyata banged. Tapi akhirnya benar-benar menikmati sampai waktu keponakan sunat aku satu-satunya cewek yang berani lihat dari awal sampe akhir tanpa takut geli dan ngeri. Yah biasa tontonannya bedah-bedahan.
Memang belum semua drama medis korea kutonton, namun ini kureview dari yang sudah kutonton saja yakni drama medis dari akhir tahun 2012 sampai sekarang.
1.     Great Doctor / Faith (2012)

          Faith menceritakan tentang jaman Guryeo sekitar 650 tahun yang lalu. Ratu Goryeo yang merupakan orang Yuan mengalami kecelakaan karena terkena sabetan pedang dari perompak saat perjalanan ke Guryeo dari Yuan. Karena kesehatan ratu sangat berharga menyangkut keselamatan bangsa Guryeo yang masih ada di bawah kekuasaan bangsa Yuan, salah seorang ksatria perang yakni Choi Young (Lee Min Ho) atas saran dari seorang pejabat Guryeo melakukan travel time ke masa depan untuk mencari tabib agung yang bisa menyembuhkan ratu. Dan Choi Young berada di Gangnam tahun 2012 kemudian bertemu dengan dokter bedah wajah Eun So. Sebenarnya dia adalah dokter bedah dada yang cukup genius namun beralih menjadi dokter bedah wajah karena dirasa lebih menguntungkan. Karena dipaksa oleh Choi Young akhirnya Eun So mau ikut ke jaman Guryeo dan disitulah petualangan dimulai. Dari Eun So tidak bisa kembali ke masa 2012, kemudian jatuh cinta dengan Choi Young. Drama ini memang medis tradisional, sehingga obat dan pertolongan medisnya juga masih tradisional. Namun banyak adegan berdarah-darah disini dari sabetan pedang.

2.    Top Medical Team (2013)
         

Drama ini merupakan drama termedis yang pernah kutonton. Tiap eposidenya hampir isinya kasus medis yang berbeda. Dan peralatan medisnya juga paling modern. Karena memang film ini menceritakan tentang dokter terbaik dari rumah sakit terbaik. Dalam drama ini kita biasa melihat adegan operasi dan pertolongan darurat di rumah sakit modern. Park Tae Shin (Kwon Sang Wo) yang merupakan dokter bedah umum jenius dari Matson Medical Center di Amerika datang ke Korea untuk membantu Klinik Paran yang merupakan pengobatan gratis untuk orang tak mampu. Secara tidak sengaja dia bertemu dengan dokter bedah dada jenius Seo Joo Young (Jung Ryeo Won) dan awalnya menjadi saingan namun menjadi partner karena masuk ke dalam top medical team yang digagas oleh Han Seung Jae (Joo Ji Hoon) yang merupakan kumpulan dokter terbaik di Rumah Sakit Kwanghee.
Awalnya dr Park tidak mau bergabung ke rumah sakit Kwanghee, namun karena anak asuhnya yang menderita penyakit paru-paru diberi pengobatan gratis di rumah sakit tersebut serta bantuan dana yang diberikan rumah sakit Kwanghee kepada klinik Paran akhirnya dr Park mau bergabung di top medical team Kwanghee. Drama medis ini juga dibumbui dengan persaingan kekuasaan dan jabatan. Sebenarnya dari segi kemedisannya drama ini bagus, namun cerita dramanya kurang memuaskan. Yang kusuka disini ada Minhoo Shinee yang berperan sebagai dokter residen namun akhirnya patah hati karena cintanya ditolak (poor). Untuk drama ini aku Cuma menikmati medisnya aja. Namun ceritanya cenderung membosankan di akhir-akhir.

3.    Good Doctor (2013)
          Dan ini adalah drama medis kesukaaanku sepanjang masa. Good Doctor menceritakan dokter autis Park Shi On (Joo Won) yang berjuang untuk menjadi dokter bedah anak yang diakui. Tidak mudah memang karena banyak ujian yang dilalui, dari diragukan dan dikucilkan karena keautisannya, mendapat senior yang galak, dan sempat difitnah sehingga hampir dipecat dari rumah sakit. Untung ada satu dokter yang selalu membantunya yakni dokter Cha (Moon Chae Won) dan akhirnya mereka saling suka. Pada akhirnya Park Shi On menjadi dokter yang diakui dan sangat disukai anak-anak karena dia merawat dengan sepenuh hati. Tak hanya disukai anak-anak, Shi On pun disukai oleh seluruh departemen bedah anak karena kerja kerasnya. Bahkan hampir seluruh rumah sakit mungkin hihi. Pada drama ini kita biasa melihat pasien anak-anak bahkan bayi. Menurutku drama ini dari awal sampai akhir ceritanya konsisten bagusnya. Recomended banged buat ditonton. Intinya jangan pernah meremehkan orang karena kekurangannya.

4.    Emergency Couple (2014)
         
Lanjut ke drama medis selanjutnya yang cukup kocak. Drama ini mengkisahkan Oh Jin Hee (Song JI Hyo) dan Oh Chang Min (Choi Jin Hyuk) yang dulunya menikah namun bercerai setelah 1 tahun pernikahan. Masih ababil sepertinya karena mereka menikah di usia muda. 6 tahun kemudian, mereka bertemu kembali di rumah sakit sebagai dokter intern dan bersikap seperti kucing dan anjing. Namun lambat laun mereka saling suka kembali. Oh Chang Min sebelumnya memang mahasiswa kedokteran sebelum meikah dengan Oh Jin He, sedangkan Oh Jin Hee adalah lulusan gizi yang sedang magang di tempat kuliahnya Changmin. Karena pernikahan mereka, akhirnya Changmin tidak mendapat jatah hidup dari ibunya yang kaya raya bahkan harus putus kuliah dan menjadi sales obat. Sedangkan Oh Jin Hee setelah berpisah dari Changmin, dia bertekad menjadi dokter dan ternyata dipertemukan kembali dalam internship UGD / Emergency Room.

5.    Doctor Stranger (2014)
         
Terakhir adalah drama yang masih on going yang menceritakan dokter yang dibesarkan di Korea Utara. Drama ini penuh dengan balas dendam dan nuansa politik. Cukup berat memang ceritanya, namun aku justru suka yang seperti ini. Sekilas mirip dengan city hunter di awal.
          Park Hoon (Lee Jong Suk) adalah ahli bedah jantung yang dibesarkan di Korea Utara karena ayahnya Park Chul dibawa ke Utara untuk mengoperasi presiden Korea Utara. Namun karena ada unsur politik di Korea Selatan serta persekongkolan pemilik rumah sakit Myungwo, membuat Park Chul dan Park Hoon tak bisa kembali ke Selatan sampai Park Hoon dewasa. Hal ini karena Park Chul merupakan saksi dari kasus mal praktek rumah sakit Myungwo. Di Utara, Hoon bertemu dengan Jae Hee (Jin Se Yeon) yang merupakan gadis asli utara dan mereka akhirnya berteman sampai kuliah di kedokteran. Bahkan mereka saling suka. Karena kondisi politik juga, mereka dipisahkan oleh pihak Utara karena kejeniusan Hoon dia disuruh mempelajari medis jantung bahkan dengan cara yang tidak berperikemanusiaan. Sedangkan Jae Hee dibawa ke Jepang untuk mendalami kedokteran anestasi. 7 tahun kemudian, mereka bertemu namun Je Hee dalam keadaan sekarat karena kedua ginjalnya rusak untuk kepentingan penelitian Utara. Akhirnya dengan mengorbankan ayah Jae Hee, ginjal Jae hee dioperasi oleh Hoon. Namun baru beberapa hari bertemu mereka sudah dipisahkan kembali sampai 2 tahun kemudian Park Hoon sudah di Korea Selatan. Sedangkan Jae Hee juga ada di selatan namun dia ada misi dengan negaranya Korea Utara sehingga Jae Hee berpura-pura tidak kenal Hoon meski Hoon sudah berkali-kali meyakinkan.
          Sedangkan setelah Hoon di Korea Selatan, tak sengaja dia mengoperasi ayah anak kecil di rumah sakit Myungwo dan direkrut menjadi dokter disana. Di RS Myungwo Hoon disukai oleh Oh Soo Hyun (Kang Sora) yang merupakan tunangan Jae Joon (Park Hae Jin) yang ternyata Jae Joon juga berniat balas dendam atas kasus malpraktek rumah sakit Myungwo dimana ayah Hoon menjadi saksi. Drama ini benar-benar seru sampai episode menjelang akhir. Bahkan aku sempat berfikir semua pemerannya antagonis karena motifnya balas dendam semua. Tapi seru, lain daripada yang lain.